Peletakan Batu secara simbolis oleh Y.M. Thitananno Thera
Pemberkahan umat oleh Y.M. Subalaratano Maha Thera
Vihara Dhammamangala berlokasi di Jln. Lingkar Kota R.T. 30/ R.W. X Kelurahan Mulia Baru Kecamatan Delta Pawan Ketapang - Kalimantan Barat Indonesia
Sehubungan dengan pembangunan Vihara Dhamma Mangala,kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara ke :
Peletakan Batu Pertama Vihara Dhamma Mangala diadakan pada :
Hari/Tanggal : Minggu 10 Oktober 2010
Waktu : 10.10-selesai WIB
Tempat : Jln. Lingkar kota Rt.30/Rw 10, Kel. Mulia Baru, Kec. Delta Pawan,KETAPANG, KALIMANTAN BARAT, INDONESIA
Atas kehadiran dan perhatiannya seluruh Panitia Pembangunan Vihara Dhamma Mangala mengucapkan Terima Kasih.
Pengurus Blog Ketua
Saccagavesako Romo Kusalo
Fang Sen sesungguhnya merupakan tindakan untuk menebar cinta kasih kepada semua makhluk. Kita dengan melepas makhluk tersebut ke alam bebas maka kita telah menebarkan cinta kasih. Perbuatan ini merupakan perbuatan yang sangat positif untuk melatih diri kita melakukan perbuatan baik dengan memunculkan benih cinta kasih. Fang Sen yang dilakukan sesungguhnya didasari pada harapan agar semua makhluk hidup berbahagia dan bebas dari penderitaan.
Dengan melakukan Fang Sen berarti kita telah berkontribusi dalam menjaga ekosistem untuk menghindari dari kepunahan spesies-spesies. Kita mengembalikan mereka ke habitatnya sehingga mereka dapat bereproduksi untuk menghasilkan hewan-hewan baru. Sebuah tebaran cinta kasih yang mulia.
Umat Buddha memandang Fang Sen ini merupakan kegiatan yang penting dan perlu untuk dilaksanakan secara terus-menerus. Hal ini karena Fang Sen memiliki makna spiritual yang sangat dalam, yaitu : Pengembangan cinta kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk. Salah satu cara untuk purifikasi karma buruk, khususnya karma membunuh, yaitu dengan melakukan hal yang berkebalikan (antidote). Dengan Fang Sen, kita telah memperpanjang umur makhluk hidup, yang berkebalikan dengan mengambil nyawa dari makhluk lain.
Pelepasan terhadap satwa mengandung arti pula dengan melepaskan penderitaan hewan dapat hidup bebas dihabitatnya diharapkan dengan perbuatan serupa tersebut kita pun dapat terbebas dari segala kesulitan dan kesukaran hidup yang kita hadapi dan alami. Pengaruh ekosistem, yaitu kegiatan ini ikut menjaga dan memelihara keseimbangan alam, baik habitat yang hidup di air maupun di darat karena kita mengenal adanya hukum alam. Keseimbangan alam akan mempengaruhi hidup manusia. Oleh karena itu kita perlu bijaksana dalam mengatur dan memanfaatkan alam semesta. Tindakan penggalian alam secara maksimal tanpa ada upaya menjaga keseimbangan akan membawa bencana pada manusia nantinya. Buddha Dharma adalah ajaran yang sangat menghargai kehidupan. Setiap makhluk hidup (sekecil apapun) adalah sama berharganya dengan diri kita. Buddha Dharma mengajarkan bahwa tidak ada seorangpun yang berhak mengakhiri kehidupan makhluk lain dengan alasan apapun.Dalam Kitab Suci Tripitaka, bagian Anguttara Nikaya III, 203, Buddha mengajarkan lima aturan moral (sila) yang dikenal dengan Panca Sila Buddhis. Kelima sila tersebut adalah bahwa seorang umat Buddha bertekad melatih diri menghindarkan diri dari:
Sebagai seorang umat Buddha tentu kita mengenal dan mengetahui siapa Sang Buddha. Yahhh betul, guru kita yang telah membabarkan dan mengajarkan Dhamma kepada kita menuju Nibbana.1) Kaki yang datar
2) Kaki yang bercirikan suatu roda dengan seribu jeruju (Utsanga-pada)
3) Jari tangan yang ramping
4) Kaki dan tangan yang lemah gemulai
5) Jari kaki dan tangan terselaput secara indah (Jal-anguli-hasta-pada)
6) Tumit yang berukuran sempurna
7) Permukaan bagian atas di antara jari kaki dan pergelangan kaki melengkung
Paha yang seperti raja rusa jantan
9) Tangan yang mencapai ke bawah lutut
10) Alat tubuh rahasia lelaki yang tersembunyi
11) Tinggi dan lebar tubuh yang seimbang
12) Rambut yang berwarna biru tua
13) Bulu badan yang ikal dan halus gemulai
14) Tubuh yang berwarna keemasan
15) Kaki yang memancarkan cahaya
16) Kulit yang lembut nan halus
17) Tujuh bagian tubuh (2 telapak kaki, 2 muka tangan, 2 bahu dan kepala gigi) padat ideal (Sapt-Otsada, Sapt Occhada)
18) Dibawah ketiak berisi padat (Cit-antaramsa)
19) Tubuh berbentuk singa
20) Tubuh yang lurus (Nyagrodha)
21) Bahu yang padat (Susamvrita)
22) Jumlah gigi empat puluh
23) Gigi yang putih, rata, rapat (Avirala-danta)
24) Empat gigi taring putih murni
25) Rahang yang seperti rahang singa
26) Air liur yang dapat melezatkan makanan (rasa-rasagrata)
27) Lidah yang panjang dan lebar (Prabhuta-tanu-jihva)
28) Suara yang ulam dan merdu (Brahma-svara)
29) Mata yang biru tua (Abhinila)
30) Bulu mata seperti bulu mata raja sapi jantan
31) Suatu lingkaran putih di antara bulu matanya memancarkan cahaya (urna)
32) Kepala gigi yang penuh daging
Karena itu, Anda harus mengerti perbedaan antara kerja Anda dengan kerja pohon itu, Serahkanlah urusan pohon itu kepada pohon itu, dan bertanggung jawablah kepada urusan Anda sendiri. Jika batin tidak tahu apa yang perlu ia lakukan, ia akan memaksa tanaman itu untuk tumbuh, berbunga dan berbuah pada hari yang sama. Ini adalah pandangan yang salah, penyebab besar dari penderitaan. Berlatih sajalah pada arah yang benar dan serahkan hasilnya pada karmamu. Kemudian, apakah akan membutuhkan waktu satu atau ribuan kali kehidupan, latihan Anda akan berada dalam kedamaian.
Sumber : Buku Telaga Hutan Yang Hening By Mutiara Dhamma.