Kamis, 02 Desember 2010

Menyucikan Hati Oleh: Yang Mulia Ajahn Chah



Menyucikan Hati
Oleh: Yang Mulia Ajahn Chah


Akhir-akhir ini banyak orang pergi ke berbagai tempat untuk melakukan kebajikan (memberikan persembahan) ke vihara. Dan mereka tampaknya selalu singgah di Wat Ba Pong (sebuah vihara di Thailand), entah dalam perjalanan perginya, atau pada pulangnya. Beberapa orang begitu terburu-buru sehingga saya tidak sempat bertemu atau pun bercakap dengan mereka. Kebanyakan orang mencari kebajikan, tetapi saya lihat tidak banyak yang mencari jalan keluar dari perbuatan salah. Mereka begitu bernafsu mendapatkan jasa, tetapi tidak tahu akan menempatkannya di mana. Ini seperti mencoba mewarnai kain yang kotor, dengan tidak mencucinya.

Walau para bhikkhu berbicara terus terang seperti ini, tetapi banyak orang mengalami kesulitan untuk melaksanakannya dalam praktek. Hal ini sulit karena mereka tidak mengerti, padahal jika mereka mengerti akan menjadi lebih mudah. Misalkan ada sebuah lubang dan ada sesuatu pada dasarnya. Siapapun yang memasukkan tangannya ke dalam lubang tersebut dan tidak dapat menyentuh dasarnya akan mengatakan bahwa lubang itu terlalu dalam. Dari 100 bahkan 1000 orang yang melakukannya, mereka semua berkata bahwa lubangnya yang terlalu dalam. Tidak ada yang mengatakan bahwa lengan merekalah yang terlalu pendek!

Ada begitu banyak orang yang mencari jasa/kebajikan. Cepat atau lambat mereka harus mulai mencari jalan keluar dari perbuatan salah. Akan tetapi tidak banyak orang tertarik akan hal ini. Ajaran Sang Buddha begitu singkat, tetapi sebagian besar orang melewatkannya begitu saja, seperti halnya mereka hanya melewati Wat Ba Pong. Bagi banyak orang itulah Dhamma, hanya sekedar titik perhentian.

Hanya 3 baris, tidak lebih. Sabba papassa akaranam: menahan diri dari semua perbuatan salah; Kusalassupasampada: senantiasa mengembangkan kebajikan; Sacittapariyodapanam: menyucikan batin; Itulah ajaran dari semua Buddha. Inilah inti dari ajaran Buddha. Tetapi orang terus melewatinya, mereka tidak menginginkan itu. Pelepasan dari segala perbuatan salah, besar atau kecil, baik dalam ucapan, fisik dan mental.... inilah inti ajaran pertama dari semua Buddha.

Jika kita ingin mewarnai sehelai kain kita harus mencucinya terlebih dahulu. Tetapi banyak orang tidak mau melakukan hal ini. Tanpa melihat kondisi kain, mereka langsung saja mewarnai kain tersebut. Jika kain itu kotor, mewarnainya hanya akan membuat kain itu lebih kotor. Pikirkanlah hal ini. Mewarnai kain kotor, dapatkah kelihatan baik?

Kita lihat? Beginilah agama Buddha mengajarkan, tapi banyak orang melewatkannya begitu saja. Mereka hanya ingin melakukan perbuatan baik, tetapi mereka tidak mau melepaskan perbuatan salah mereka. Ini sama halnya dengan mengatakan "lubang itu terlalu dalam". Semua mengatakan bahwa lubang itu terlalu dalam, tidak ada yang mengatakan bahwa lengan merekalah yang terlalu pendek. Kita harus kembali kepada diri kita sendiri. Dengan ajaran ini kita harus mundur dan mengamati diri kita sendiri.

Kadang-kadang mereka pergi mencari jasa kebajikan bagaikan berada di dalam bis. Mereka mungkin bertengkar dalam bis, atau bahkan mabuk. Tanyakan pada mereka arah tujuannya dan mereka akan mengatakan mereka mencari jasa. Mereka mau jasa, tetapi mereka tidak mau menghentikan perbuatan salah mereka. Maka mereka tidak akan memperoleh jasa dengan cara seperti itu.

Begitulah manusia. Kita harus mengamati diri sendiri dengan dekat dan jelas. Sang Buddha mengajarkan tentang adanya kesadaran (awareness) dan perenungan (recollection) dalam segala situasi. Perbuatan salah dapat timbul baik lewat tindakan secara fisik, lewat kata-kata, dan pikiran. Apakah kita membawa pikiran, perbuatan dan perkataan kita hari ini? Atau hanya kita tinggalkan di rumah? Di situlah harus kita lihat, tepat di situ. Kita tidak perlu melihat terlalu jauh. Lihatlah pada pikiran, perkataan, dan perbuatan. Lihat apakah tingkah laku kita sudah betul, atau masih salah.

Orang tidak benar-benar melihat hal-hal semacam ini. Seperti seorang ibu yang mencuci piring dengan cemberut. Dia begitu terpaku pada usahanya membersihkan piring-piring tersebut sehingga tidak menyadari bahwa pikirannya sendiri kotor. Pernahkah anda melihat hal semacam ini? Dia hanya melihat piring-piring tersebut. Dia melihat terlalu jauh, bukan? Saya kira beberapa di antara kita mungkin telah mengalami hal semacam ini. Di sinilah kita harus melihat. Orang berkonsentrasi untuk membersihkan piring tetapi mereka membiarkan pikiran mereka kotor. Ini tidak baik. Mereka melupakan diri sendiri.

Karena orang tidak melihat diri sendiri, maka mereka dapat melakukan segala macam perbuatan tercela. Mereka tidak melihat pikiran mereka sendiri. Ketika akan melakukan sesuatu yang jelek, orang sering melihat ke sekeliling terlebih dahulu untuk melihat apakah ada orang yang mengamati... "Apakah dilihat Ibu?" "Apakah dilihat suami saya?" "Apakah dilihat anak-anak?" "Apakah dilihat istri saya?" Jika tidak ada yang mengamati maka mereka akan langsung melakukannya. Ini sebenarnya merendahkan diri sendiri. Mereka berkata: "Tidak kelihatan orang, kok", jadi langsung saja mereka lakukan. Tetapi bagaimana dengan mereka sendiri? Bukankah mereka juga "orang"?

Kita lihat bahwa lewat pengamatan terhadap diri sendiri seperti itu, orang tidak akan pernah menemukan nilai yang sesungguhnya. Mereka tidak menemukan Dhamma. Jika kita dapat melihat diri kita sendiri sewaktu akan melakukan sesuatu yang buruk, dan kita dapat melihat diri sendiri tepat pada waktunya, kita dapat berhenti. Jika lkita ingin melakukan sesuatu yang berarti, lihatlah pikiran kita. Dengan bisa melihat diri sendiri, kita akan tahu tentang kebaikan/keburukan, keuntungan/kerugian, nilai-nilai buruk/nilai-nilai luhur. Inilah hal-hal yang harus kita ketahui.

Jika hal-hal seperti ini tidak dibicarakan, kita tidak akan tahu. Kita mempunyai ketamakan dan kegelapan batin dalam pikiran, tetapi kita tidak tahu. Kita tidak akan tahu apapun jika kita selalu melihat keluar. Inilah masalah orang yang tidak melihat diri sendiri. Melihat ke dalam, kita akan melihat baik dan buruk. Melihat kebaikan, kita dapat menyimpannya dalam hati dan mempraktekkannya.

Meninggalkan yang jelek, melakukan yang baik..... ini adalah jiwa agama Buddha. Sabba papassa akaranam —tidak melakukan perbuatan salah, baik melalui fisik, kata-kata ataupun pikiran. Inilah latihan yang benar, ajaran dari semua Buddha. Nah, sekarang "kain" kita sudah bersih.

Kemudian kita punya kusalassupasampada —membuat pikiran luhur dan trampil. Jika pikiran kita luhur dan trampil, kita tidak perlu naik "bis" ke mana-mana untuk mencari jasa/kebajikan. Dengan duduk di rumah pun kita bisa berbuat jasa yang baik. Tetapi kebanyakan orang hanya mau pergi ke mana-mana untuk mencari jasa tanpa mau meninggalkan perbuatan jelek mereka. Saat mereka pulang, sia-sialah usaha mereka! Mereka kembali berwajah masam/kecut. Itulah mencuci piring dengan penuh perhatian dengan wajah yang masam. Di sinilah orang jarang mengamati. Mereka jauh dari jasa/kebajikan.

Kita mungkin tahu tentang hal-hal seperti ini, tetapi kita belum benar-benar mengerti jika hal itu tidak kita pahami dalam pikiran kita. Jika pikiran kita luhur dan trampil, itulah bahagia. Ada senyum di hati kita. Tetapi kebanyakan dari kita bahkan tidak punya waktu untuk tersenyum. Kita hanya tersenyum jika keadaan berjalan seperti harapan kita. Banyak orang yang kebahagiaannya tergantung dari keadaan/kondisi sekelilingnya. Mereka butuh orang lain untuk mengatakan hal-hal yang indah dan hanya yang indah. Begitukah kalian mencari kebahagiaan? Dapatkah kita mengharapkan semua orang untuk mengatakan hanya hal-hal yang menyenangkan saja? Jika begitu kemauan kita, kapan kita akan menemukan kebahagiaan?

Kita harus menggunakan Dhamma untuk mencapai kebahagiaan. Apapun itu, benar atau salah, jangan mengukuhinya dengan membuta. Cukup diketahui saja, dan kemudian dilepaskan. Jika pikiran kita tenang, kita bisa tersenyum. Pada saat kita menolak sesuatu, pikiran menjadi jelek. Dan kemudian tidak ada apapun yang baik.

Ketika orang mengatakan sesuatu yang sesuai dengan keinginan kita, kita tersenyum. Ketika mereka mengatakan hal yang tidak mengenakkan, kita cemberut. Bagaimana kita dapat mengharapkan orang untuk selalu mengatakan hal yang kita sukai setiap waktu? Apakah mungkin? Bahkan anak-anak kita... pernahkah mereka mengatakan pada kita hal-hal yang tidak menyenangkan? Pernahkah kita mengecewakan orang tua kita? Tidak hanya orang lain, pikiran kita sendiri pun dapat mengecewakan kita. Kadangkala hal yang kita pikirkan pun tidak menyenangkan. Apa yang dapat kita lakukan? Kadang kita sedang berjalan dan tiba-tiba tersandung akar pohon... Dug... Aduh...! Dimana permasalahannya? Siapa yang membuat kita tersandung? Siapa yang akan kita salahkan? Itu adalah salah kita sendiri. Bahkan pikiran kita sendiri pun dapat menjengkelkan. Jika kita pikirkan hal ini, kita akan tahu bahwa ini benar. Kadangkala kita melakukan hal-hal yang bahkan kita sendiri pun tidak suka. Yang dapat kita katakan hanyalah "sialan". Namun tidak ada yang dapat disalahkan.

Jasa atau kebaikan dalam ajaran Buddha adalah melepaskan perbuatan salah. Jika kita meninggalkan kesalahan, kita tidak lagi salah. Jika tidak ada lagi kesalahan, tidak ada lagi tekanan (stress). Jika tidak ada tekanan lagi, timbullah ketenangan. Pikiran yang tenang adalah pikiran yang bersih, yang tidak menyimpan kemarahan, dan jernih.

Bagaimana kita membuat pikiran jernih? Hanya dengan mengendalikannya. Sebagai contoh, kita mungkin berpikir, "Hari ini suasana hati saya jelek sekali, apapun yang saya temui adalah menjengkelkan, bahkan piring-piring di meja pun menjengkelkan saya". Kita mungkin merasa ingin membanting semuanya. Apapun yang kita temui menjadi kelihatan salah atau jelek, ayam, anjing, kucing.... kita membenci semuanya. Segala yang dikatakan sang suami terasa menyinggung. Bahkan melihat pikiran kita sendiri pun kita tidak suka. Apa yang dapat kita lakukan dalam situasi seperti ini? Dari mana datangnya penderitaan ini? Inilah yang disebut tidak mempunyai jasa kebajikan (merit). Akhir-akhir ini di Thailand ada ungkapan bahwa orang yang sudah meninggal jasanya juga sudah berakhir. Ini tidak benar, karena banyak orang yang meskipun masih hidup tetapi jasanya telah berakhir.... itulah orang-orang yang tidak mempunyai jasa. Pikiran yang jelek terus-menerus menumpuk kejelekan.

Perjalanan pergi mencari jasa/kebajikan seperti ini sama seperti membangun rumah tanpa menyiapkan lahannya terlebih dahulu. Dalam waktu yang tidak lama rumah tersebut akan runtuh, bukan? Rancangannya tidak begitu baik. Nah, sekarang kita harus mencoba cara lain. Kita harus melihat ke dalam diri sendiri. Lihatlah kesalahan-kesalahan pada perbuatan, perkataan, dan pikiran kita. Di mana lagi kita akan berlatih bila tidak dalam semua bentuk pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sendiri? Banyak orang tersesat. Mereka ingin pergi dan berlatih Dhamma di tempat yang tenang, di hutan atau di Wat Ba Pong. Apakah Wat Ba Pong tenang? Tidak, tidak benar-benar tenang. Tempat yang benar-benar tenang adalah di rumah sendiri.

Jika kita mempunyai kebijaksanaan, ke mana pun pergi kita akan merasa senang. Dunia sudah indah sebagaimana adanya saat ini. Semua pohon di hutan sudah indah seperti apa adanya: ada yang tinggi, ada yang pendek, berbagai jenis. Semuanya seperti apa adanya. Karena kebodohan, kita tidak mengerti sifat alami mereka dan kita memaksakan penilaian kita... "Wah, pohon yang ini terlalu pendek, yang itu terlalu besar". Pepohonan itu ya cuma pohon, yang lebih baik daripada kita.

Biarkan pepohonan mengajarkan kita. Sudahkah kita belajar sesuatu dari mereka? Paling tidak, kita harus belajar satu hal dari mereka. Ada banyak pohon, semua dengan sesuatu yang bisa mengajar kita. Dhamma ada di mana saja, dalam segala hal di alam ini. Kita harus memahami hal ini. Jangan menyalahkan lubang yang terlalu dalam... lihat di sisi yang lain, lengan kita sendiri! Jika kita dapat melihat hal ini, kita akan bahagia.

Jika kita berbuat baik, simpanlah dalam pikiran. Itu adalah tempat terbaik untuk menyimpan. Berbuat kebajikan adalah hal yang baik, tetapi bukan yang terbaik. Mengkonstruksikan bangunan adalah hal yang baik tapi bukan yang terbaik. Membangun pikiran baik itulah yang terbaik. Dengan begitu kita akan menemukan kebaikan baik di sini maupun di rumah sendiri. Temukanlah keunggulan ini dalam pikiranmu. Rangka luar seperti bangunan ini hanyalah seperti kulit pada pohon dan bukan kayu inti.

Jika kita mempunyai kebijaksanaan, ke mana pun kita melihat di situ ada Dhamma. Jika kita kekurangan kebijaksanaan, bahkan hal yang baik akan menjadi buruk adanya. Darimana datangnya yang buruk itu? Tak lain dari pikiranmu sendiri. Lihat bagaimana pikiran ini mengubah segala sesuatu. Suami istri yang biasanya rukun, suatu saat ketika perasaan hati mereka sedang tidak baik, apapun yang dikatakan oleh pasangannya membuat tersinggung. Pikiran telah menjadi jelek, dan segalanya berubah. Begitulah.

Jadi, untuk melepaskan kejahatan dan menggali kebaikan kita tidak harus pergi mencari ke mana-mana. Jika pikiran sedang jelek jangan melihat ke orang yang ini atau yang itu. Lihatlah pikiran kita sendiri dan carilah darimana pikiran-pikiran itu muncul. Mengapa pikiran ini berpikir sedemilian rupa? Pahamilah ini: segala sesuatu adalah sementara. Cinta adalah sementara, benci demikian pula. Pernahkah kita mencintai anak-anak kita? Tentu saja. Pernahkah kita membenci mereka? Saya akan menjawab... kadangkala. Benar 'khan? Bisakah kita membuang mereka? Tidak. Mengapa? Anak-anak bukanlah seperti peluru yang ditembakkan ke luar, anak-anak ditembakkan balik pada orang tua. Jika mereka baik, mereka anak-anak kita. Jika jelek pun, mereka juga tetap anak-anak kita. Kita dapat berkata bahwa anak adalah kamma kita. Ada yang baik ada yang buruk. Tetapi, baik ataupun buruk, mereka tetap anak kita. Bahkan yang buruk pun berharga. Ada yang mungkin terlahir sakit polio, cacat tubuh, tetapi bisa menjadi lebih berarti dibanding anak lainnya. Setiap kali akan pergi kita meninggalkan pesan: "Tolong jagai si kecil ini, dia tidak begitu mampu". Kita mencintainya lebih dari yang lain.

Jika begitu kita harus menyeimbangkan pikiran: setengah cinta, setengah benci. Jangan hanya mengambil satu sisi, selalu lihatlah dari kedua sisi. Anak-anak adalah kamma kita, semua sesuai dengan hukumnya sendiri. Mereka adalah kamma kita, kita harus bertanggung jawab terhadapnya. Jika mereka betul-betul memberi kita penderitaan, kita ingatkan diri kita: "Ini kammaku". Jika mereka menyenangkan, kita ingatkan diri kita: "Ini kammaku". Kadangkala begitu frustasinya kita di rumah sehingga kita ingin melarikan diri. Beberapa malahan begitu frustasi sehingga mereka bunuh diri. Ini adalah kamma. Kita harus menerima kenyataan. Hindarilah perbuatan jelek. Dengan demikian kita akan dapat melihat diri kita sendiri dengan lebih jelas.

Inilah sebabnya sangat penting bagi kita untuk merenungkan segala sesuatu. Biasanya saat meditasi kita menggunakan suatu obyek, misalkan Buddho, Dhammo, atau Sangho. Tetapi kita dapat membuatnya lebih singkat. Pada saat pikiran kita jelek atau jengkel, katakanlah "A-ha!". Ketika perasaan kita enak, katakanlah "A-ha!... ini bukanlah hal yang pasti". Jika kamu mencintai seseorang, katakan "A-ha". Demikian juga saat kamu akan marah. Kamu tidak perlu mencari di Tipitaka. Katakan saja "A-ha". Ini berarti "tidak kekal". Cinta, benci, baik, buruk, semua tidak kekal. Bagaimana bisa kekal? Di mana unsur kekekalannya?

Dapat kita katakan bahwa semuanya itu hanya permanen dalam ketidak-permanennannya. Menit ini ada cinta, menit berikutnya timbul benci. Begitulah adanya. Sifat berubahnya inilah yang permanen. Maka dari itu saya katakan bahwa ketika timbul cinta, katakanlah "A-ha". Ini menghemat banyak waktu. Kita tidak harus mengatakan "Anicca, dukkha, anatta". Jika kita tidak menginginkan tema meditasi yang panjang, gunakan saja kata yang singkat ini... katakan saja: "A-ha".

Nah, jika semua orang lebih sering mengatakan "A-ha", dan melatihnya dalam kehidupan sehari-hari, maka kemelekatan akan semakin berkurang. Orang tidak akan tersuruk dalam cinta dan benci. Mereka tidak akan melekat kepada hal-hal demikian. Mereka akan menaruh kepercayaan terhadap kebenaran dan bukan yang lain. Sudah cukup bagi kita untuk mengetahui sebegini saja. Apalagi yang ingin kita ketahui?

Setelah mengetahui ajaran ini, kita harus selalu mencoba untuk mengingatnya. Apa yang harus diingat? Meditasi.... Mengerti, bukan? Kalau kita mengerti, dan Dhamma menyatu dengan kita, pikiran akan berhenti. Jika ada kemarahan dalam pikiran, hanya "A-ha".. dan itu cukup, berhenti di situ. Jika belum benar-benar mengerti, lihatlah lebih dalam ke pokok masalahnya. Jika ada pengertian, ketika kemarahan timbul di dalam pikiran, kita dapat membungkamnya dengan berkata "A-ha, inipun tidak kekal".

Yang paling penting adalah perekam yang ada di pikiran kita. Bacaan ini dapat musnah begitu saja tapi jika Dhamma telah dapat terekam dengan baik di dalam pikiran, itu tidak akan dapat dimusnahkan, akan berada di situ selamanya.


[ Dikutip dari Mutiara Dhamma VII, Living Dhamma ]

Minggu, 24 Oktober 2010

Foto Acara Peletakan Batu Pertama Vihara Dhamma Mangala Ketapang Kalimantan Barat

Beberapa foto dari acara tanggal 10/10/2010 pada pukul 10.10 WIB dalam rangka peletakan Batu pertama Vihara Dhamma Mangala di Ketapang, Kalimantan Barat


Peletakan Batu secara simbolis oleh Y.M. Thitananno Thera






Pemberkahan umat oleh Y.M. Subalaratano Maha Thera

Minggu, 17 Oktober 2010

Koleksi Foto Kedatangan para Bhante ke Ketapang Tanggal 09 Oktober 2010



Kedatangan 4 Bhante yaitu Y.M. Subalaratano Mahathera, Y.M. Thitayanno Thera, Y.M. Bhikkhu Suratano, Y.M. Bhikkhu Cakkavalo didampingi Rudi Sugianto dari Patria Pontianak pada tanggal 9 oktober 2010, di Bandara Rahadi Oesman,Ketapang, Kalimantan Barat




Pada Malam hari tanggal 9 oktober 2010 diadakan puja bakti di Cetya Dhamma Mangala, diisi dengan Dhammadesana oleh Bhante Subala, beberapa foto lainnya






Inilah rangkaian acara kami pada saat tanggal 09 Oktober 2010

Jumat, 08 Oktober 2010

Undangan Peletakan Batu pertama Vihara Dhamma Mangala

Sehubungan dengan pembangunan Vihara Dhamma Mangala,kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara ke :

Peletakan Batu Pertama Vihara Dhamma Mangala diadakan pada :

Hari/Tanggal : Minggu 10 Oktober 2010
Waktu : 10.10-selesai WIB
Tempat : Jln. Lingkar kota Rt.30/Rw 10, Kel. Mulia Baru, Kec. Delta Pawan,KETAPANG, KALIMANTAN BARAT, INDONESIA

Atas kehadiran dan perhatiannya seluruh Panitia Pembangunan Vihara Dhamma Mangala mengucapkan Terima Kasih.

Pengurus Blog Ketua

Saccagavesako Romo Kusalo

Jumat, 01 Oktober 2010

Daftar Nama Para Donatur Pembangunan Vihara Dhamma Mangala Ketapang Oktober-Desember 2010

Ini adalah daftar nama para donatur sampai saat ini, nama donatur akan disesuaikan dengan tanggal masuk demi memudahkan pencarian dan pendataan donatur baru, jika ada kesalahan penulisan nama, anda dapat menkonfirmasi ke nomor 081256550188 (Via Sms)
Mohon sertakan Kota Asal anda untuk pendataan, terima kasih.


Tanggal 01/10/2010

Sohar Sobandar (Alm.) & Winawati (Almh.) : Rp 1.000.000
Chang Yun Kie (Almh.) : Rp 1.000.000
Chang Po Lan : Rp 1.000.000
Sugandhi Sanjaya : Rp 300.000
Natasha Sanjaya : Rp 300.000
Nadya Sanjaya : Rp 300.000
Adithya Viryanata, Amanda Mariana, Ardhika Kevala, Mahinda Aggajoti : Rp 10.000.000
Erly Kuwandy : Rp 900.089
Lim Yong Huat (Alm.) & Kwee Ceh Hiang (Almh.) : Rp 250.000
Lim Tau Yong & Lie Man Djin : Rp 250.000
Lay Thit Khiung (Alm.) & Liu Khim Phung (Almh.) : Rp 250.000
Nyo Thong Djim (Alm.) & Lay Ngen Eng (Almh.) : Rp 250.000
Sim Nguan Lian : Rp 500.000
Kwa Ai Pio : Rp 500.000
Tio Un Un : Rp 300.000
Ny Jd Kho See Hong : Rp 100.089

Tanggal 02/10/2010


Roni Effendi : Rp 200.000
Salim Wongso & Leluhur, Yeni Lauw & Keluarga : Rp 5.000.000
Susianti Ng : Rp 1.000.000
Eng Suan : Rp 250.089

Tanggal 03/10/2010

Nn Kho Fifi Kurniawan : Rp 150.089

Tanggal 04/10/2010

Rudi Gunawan,S.E. : Rp 20.000.000
Gunawan Aldjawi : Rp 50.000
Adi : Rp 500.000
Heldin : Rp 100.000

Tanggal 05/10/2010

Ho Choi Lin : Rp 500.000
Song Thiam Lai : Rp 500.000
Lim An Ciok : Rp 100.000
Liu Sung Jung : Rp 300.000
Tju Bui Fung : Rp 300.000
Tio Nam Pheng : Rp 150.000
Gou Lip Hong : Rp 100.000
Khou Kim Hang : Rp 50.000
Khou Lip Seng : Rp 100.000
Gou Chun Pheng : Rp 100.000
Heng Siak Kuang : Rp 200.000
Gui yap Tie/ Yap Nam Khun : Rp 100.000
Yap Siau Tie :Rp 50.000
Lyang Che Ui : Rp 50.000
Bun Hak : Rp 50.000
Ng Ciau Seng : Rp 30.000
Chou Ngok Phin : Rp 50.000
Cia Ciau Tai (Aneng) : Rp 50.000
Khweng Khai : Rp 20.000
Yap Nam Seng : Rp 50.000
Tju Bui Kong : Rp 100.000
Ng Sun Seng : Rp 100.000

Tanggal 06/10/2010

Yanuarwati : Rp 30.000

Tanggal 08/10/2010

Cia Khian Bun : Rp 1.000.000
Ciu Yang Wei : Rp 500.000
Lau Hui Tjuan : Rp 1.000.000
The Lie Hui : Rp 500.000

Tanggal 09/10/2010

Bong Kong Fung : Rp 1.000.000
Chai Hok Chak : Rp 1.000.000
Chai Nyien Lung : Rp 1.000.000
Cong Jun Sen : Rp 500.000
Cong Kien Fong : Rp 50.000
Gou Bak Chai : Rp 100.000
Gou Bak U : Rp 200.000
Gou Hui Miang : Rp 1.500.000
Gou Hui Khim : Rp 300.000
Jau Cau Men : Rp 500.000
Jau Siau Men : Rp 1.000.000
Lie Jun Khiong : Rp 1.000.000
Lie Jun Kiun : Rp 500.000
Lie Kin Khien : Rp 1.000.000
Lie Lif Fie : Rp 5.000.000
Lie Pek Ho : Rp 1.000.000
Lie Pek Yang : Rp 1.000.000
Lim Bu Seng : Rp 1.000.000
Lim Hui Ceng : Rp 500.000
Lim Ngak Ce : Rp 500.000
Lim Ngak Chiau : Rp 200.000
Ng Weng Meng : Rp 1.000.000
Po Cun Kia : Rp 300.000
Seng Bun Tong : Rp 1.000.000
Sen Keng Heng : Rp 1.000.000
Seng Kiang Hong : Rp 500.000
Seng Kiang Meng : Rp 500.000
Tan Sui Kong : Rp 2.000.000
Tan Ce Mong : Rp 5.000.000
Tan Sung Sang : Rp 5.000.000
Yap Khong Fa : Rp 500.000
Fransiska Puspasar : Rp 200.089
Suyandi : Rp 100.089
Herlina Wejuna : Rp 250.089
Lioe Fung Ming & Kel. : Rp 3.000.000

Tanggal 10/10/2010

Lie Bui Tjham : Rp 1.000.089
Rusly Lee Sek : Rp 100.089
Jason dan Indrawaty : Rp 100.089

Tanggal 12/10/2010

Lie Njoek Fie : Rp 10.089


Tanggal 13/10/2010

Suhanda Wijaya : Rp 10.000.000
Chin Phin Fui : Rp 100.000

Tanggal 15/10/2010

Chong Pak Kin : Rp 1.500.000

Tanggal 16/10/2010

NN : Rp 500.000
Fabian Chandra : Rp 150.000
Mery Gan : Rp 100.000
Majalah Dhammacakka : Rp 100.000
Kwee Kun Liong (Alm.) : Rp 500.000
Nani : Rp 500.000
Viriya Citta : Rp 1.000.000
Ariya Chanda : Rp 1.000.000
NN : Rp 2.000.000

Tanggal 17/10/2010

Dani Ciputra : Rp 122.366

Tanggal 18/10/2010

Sutandy Laurus : Rp 20.089

Tanggal 19/10/2010

Heng Su Mang : Rp 1.000.000
Hendrawan Gozali : Rp 500.000

Tanggal 20/10/2010

She Fung Iljas : Rp 200.089

Tanggal 22/10/2010

Ani : Rp 100.000
Neti : Rp 100.000
Lina : Rp 100.000
Mina : Rp 300.000
Pimpin Kusuma Murni : Rp 100.000
Sutandy Laurus : Rp 80.089
Lai Sue Lie & Jau Sun Min : Rp 300.000
Kwee Bun Hue : Rp 500.000
Daniel Winata : Rp 200.000

Tanggal 23/10/2010

CV Pelumasindo KalBar : Rp 1.000.000



Tanggal 26/10/2010

Chandra Tju : Rp 2.000.089
Erick Handoyo : Rp 100.000
Indah Wijaya : Rp 200.000
Lai Feng Chu : Rp 681.450
Keluarga Then : Rp 9.200.000
Kwee Seng Hua (Alm.) & Tan Hui Kim : Rp 1.000.000

Tanggal 28/10/2010

Chrisyanti Tansil : Rp 100.000

Tanggal 29/10/2010

Lina : Rp 50.000
Vera Jessica Tjian : Rp 50.089
Toko Dunia Baru : Rp 100.000
Toko Setia Jaya (Ibu Rossa Iriani) : Rp 200.000
Nyo Hui Kheng (Alm.) : Rp 200.000
Lim Bak Ui : Rp 200.000
Lay Se Se : Rp 200.000
Kundha Mutiari : Rp 3.000.000

Tanggal 31/10/2010

Handoyo Widya : Rp 1.300.089
Liau Su Gek : Rp 150.000

Tanggal 03/11/2010

Ida : Rp 200.089

Tanggal 04/11/2010

Erly Kuwandy : Rp 900.089


Tanggal 05/11/2010

Cu Cen Tung/ Sutarjo T. : Rp 300.089
Gunawan Aldjawi : Rp 50.000
Poppy Anggreni Angka (Bali-Denpasar) : Rp 1.000.000
KT. Endrawati (Bali-Denpasar) : Rp 50.000
Kadek Sariani (Bali-Denpasar) : Rp 50.000
Komang Mariasih (Bali-Denpasar) : Rp 50.000
Niluh Lamiani (Bali-Denpasar) : Rp 50.000
Cristian & Family (Bali-Denpasar) : Rp 200.000
Cahyadi Oetomo Oey (Kaltim-Berau) : Rp 300.000
Grace (Bali-Denpasar) : Rp 100.000
Elly Yinawati (Bali-Denpasar) : Rp 100.000
Oey Kok Dieng (Bali-Denpasar) : Rp 100.000
Widhi (Bali-Denpasar) : Rp 50.000
Richard Benedic (Bali-Denpasar) : Rp 50.000
Vivi Mulyadi (Bali-Singaraja) : Rp 100.000
Merta Negara (Bali-Negara) : Rp 100.000
Ratna (Bali-Negara) : Rp 100.000
Enik (Bali-Denpasar) : Rp 200.000
Inge Herryawati (Jatim-Lawang) : Rp 1.000.000
Budi Hartono (Bali-Denpasar) : Rp 100.000
Ailen Velia Tristanto (Bali-Denpasar) : Rp 100.000
Merya Eveleen (Bali-Denpasar) : Rp 100.000
Nadia Rosaline Lie (Bali-Denpasar) : Rp 100.000
Sarip Tjandra (Bali-Denpasar) : Rp 200.000
Emmy Herryawati (Kaltim-Berau) : Rp 500.000
Vivi Mulyadi (Bali-Denpasar) : Rp 300.000


Tanggal 06/11/2010

Liau Lie Eng : Rp 1.000.000
Billy : Rp 2.000.000
Lie Siong Djun (Alm) : Rp 1.288.000
Cu Lie Khun : Rp 200.000

Tanggal 11/11/2010

Ida : Rp 200.089

Tanggal 13/11/2010

Jong Chin Fuk (Hermansyah) : Rp 150.000

Tanggal 14/11/2010

Ng Piang Chai : Rp 200.000
Lim Gow Pheng : Rp 500.000
Soi Leng : Rp 1.000.000
Ali Simon & Kel. : Rp 200.000

Tanggal 15/11/2010

Rosmeina : Rp 300.089

Tanggal 16/11/2010

Petrus : Rp 50.000

Tanggal 18/11/2010

Sukha : Rp 50.000
Kwee Thiam Heng : Rp 1.000.000
Jeffry Delano & Hendrik Leonardy : Rp 1.000.000
Tauji Toko Mitra Jaya : Rp 300.000
Andy Wijaya : Rp 200.000
Tan Lie Hui Toko Panca Setia : Rp 500.000
A Haw Toko Sumber Utama : Rp 1.000.000

Tanggal 19/11/2010

Hendra (Bali) : Rp 30.000
Cynthia Anggreni (Bali) : Rp 200.000
Angka Mulyadi (Alm.) (Bali) : Rp 250.000
I Made Sura (Alm.) (Bali) : Rp 250.000
Cristin Tanuwijaya (Bali) : Rp 100.000
Chandra Dewi (Bali) : Rp 100.000
Wang Ling Ling (Bali) : Rp 250.000
Jimmy Heryawan (Bali) : Rp 250.000


Tanggal 20/11/2010

Seseorang a.n. Masyarakat Ketapang : Rp 653.000

Tanggal 22/11/2010

Lay Bun Chan : Rp 200.000
Lie Hia Kheng : Rp 1.000.000
Tjiu Djin Tjong (Jinaputto) : Rp 3.000.000

Tanggal 23/11/2010

Dr. Ali Fuchih Siauw, MBA, M. Rep & Keluarga : Rp 2.500.000

Tanggal 27/11/2010

Syaiful Candra : Rp 3.000.000

Tanggal 30/11/2010

Vera Jessica Tjian : Rp 50.089

Tanggal 02/12/2010

Jong Lip Jung : Rp 200.000

Tanggal 08/12/2010

Chrisyanti Tansil : Rp 100.000
Heng Mui Khiang : Rp 200.000

Tanggal 09/12/2010

Yanto : Rp 100.000

Tanggal 13/12/2010

Susanto Wirya Sanjaya & Kel : Rp 5.000.000

Tanggal 19/12/2010

Rosmin Adi & Kel : Rp 200.089

Tanggal 21/12/2010

Chrisyanti Tansil : Rp 100.000
Erly Kuwandy : Rp 3.000.089

Tanggal 22/12/2010

Pemda Kab. Ketapang : Rp 10.000.000

Tanggal 24/12/2010

Tan Lie Kheng : Rp 2.000.000

Tanggal 29/12/2010

Rudy Gunawan, S.E. : Rp 25.000.000





Bunga Bank Juli-September (setelah dipotong pajak) : Rp 682.894
Bunga Bank Oktober (setelah dipotong pajak) : Rp 833.580
Bunga Bank November (setelah dipotong pajak) : Rp 840.412
Bunga Bank Desember (setelah dipotong pajak) : Rp 819.925

Biaya Pembangunan : Rp 1.611.326.979,42
Dana yg terkumpul : Rp 703.400.516,00

Dana yang Masih diperlukan : Rp 908.546.655,42

Bagi anda yang ingin berdana dapat ditransfer ke rekening panitia pembangunan Vihāra Dhammamaṅgala :
Bank BCA Cabang Ketapang
No rek : 8955016897
A/N LAI BUNSUI atau THEN KWET FAM
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi :

Romo Kusalo Lai Bun Sui 0811572529 / 081256550188
Balakalyano Then Kwet Cung 081352063635
Mangala Putta Then Kwet Fam 085245954233


DANANCA DHAMMACARIYANCA,ETAM MANGGALA MUTTAMAN
BERDANA DAN MEMPRAKTIKKAN DHAMMA,ITULAH BERKAH UTAMA


Sabbe Satta Bhavantu Sukhitta

NB : mohon untuk menambahkan angka 89 pada dana utk memudahkan pengecekan.
contoh : Rp 100.089,- bagi yang sudah mentransfer mohon memberitahukan nama donator dan
jumlah dana ke 081256550188 (mohon via sms aja).nama donator akan kami update terus dan bisa dilihat di www.dhammamangala.blogspot.com
Bila ada yg sudah mentransfer dan namanya tidak ada pada daftar donator mohon untuk mengkonfirmasi ulang ke no 081256550188.