Senin, 09 Agustus 2010

Wat Pa Maha Kaew, Kuil Yang Dibangun Dari Jutaan Botol





Wat Pa Maha Kaew di Thailand, kuil yang dibangun dari jutaan botol aneka bentuk. Berawal dari tahun 1984 di mana pendeta pendeta buddha mengumpulkan botol botol unik untuk menghias kuil mereka. Botol botol yang terkumpul itu kemudian ditata ternyata menjadi pemandangan menarik.

Akhirnya diputuskan membangun kuil dari botol2 kolek
si yang jumlahnya demikian banyak, bentuk dan warnanya pun aneka macam. Keadaan ini kemudian mendorong para pengunjung kuil untuk ikut menyumbangkan botol botol miliknya.Dari jutaan botol yg terkumpul itulah akhirnya berhasil dibangun kuil berikut bangunan pendukungnya. Bahkan botol jugalah yang menjadi dekorasi utama di dalam kuil. Sungguh pemandangan unik dan menarik.Kuil unik ini berada Provinsi Siasaket, 370 miles sebelah utara ibukota Thailand. Konaon jumlah botol untuk pembangunan seluruh kompleks mencapai 1,5 juta botol. Termasuk ruang kaca, krematorium bahkan toilet pun terbuat seluruhnya dari botol.

Jumat, 06 Agustus 2010

Kamis, 05 Agustus 2010

Bhikkhu Sangat Di Hormati Tetapi Tidak Di Tiru

Bhikkhu Sangat Di Hormati Tetapi Tidak Di Tiru



Bagi setiap umat Buddha, bhikkhu adalah figur yang sangat dihormati. Bhikkhu dianggap sebagai “simbol” dari kebajikan, simbol keluhuran Dhamma, dan tempat yang meminta nasihat. Kehidupan bhikkhu yang begitu sederhana, selalu berpijak pada peraturan kedisiplinan (vinaya) yang tinggi serta pengabdi yang tak mengenal pamrih ini benar-benar merupakan suri teladan yang sangat dihormati oleh setiap umat Buddha maupun anggota masyarakat yang lainnya.

Aturan-aturan kedisiplinan yang begitu ketat membuat kehidupan seorang bhikkhu menjadi sangat jauh dari segala bentuk kejahatan, tipu muslihat, kelicikan dan dengki. Mereka selalu berusaha untuk membasmi semua bentuk pikiran, ucapan dan perbuatan yang tidak baik dalam dirinya, dan selalu berusaha untuk membangkitkan nilai-nilai kebajikan dari dalam dirinya untuk kemajuan batinnya dan demi kepentingan masyarakat.

Mereka selalu memberikan bimbingan Dhamma, mencerdaskan umat Buddha agar bisa mengerti dan memahami Kebenaran yang diajarkan oleh Sang Buddha, membimbing kita semua agar selalu berjalan dalam Dhamma untuk mencapai kebahagiaan, serta selalu menjadi “kawan” terbaik yang bisa memberikan nasihat di setiap saat kita menghadapi berbagai problema kehidupan.

Oleh karena itu, seorang bhikkhu sangat dihormati oleh setiap umat Buddha. Dimanapun kita menjumpai satu atau beberapa orang bhikkhu, kita tak segan-segan untuk merangkapkan kedua tangan didepan dada – beranjali – sambil menundukkan kepala sebagai perwujudan rasa hormat yang mendalam. Bahkan tidak jarang kita membungkukkan badan, sehingga kepala menyentuh tanah untuk bernamaskara kepada seorang Bhikhu.

Begitu hormatnya seorang umat Buddha kepada bhikkhu, sehingga ia rela bersujud sampai kepala yang sangat dihormatinya itu menyentuh tanah. Umat Buddha sangat menghormati keteladanan yang telah ditunjukkan oleh para bhikkhu melalui praktek kehidupan yang sangat sederhana tetapi penuh dengan keluhuran.

“Bhikkhu memang sangat dihormati, tetapi bhikkhu sangat berbeda dengan guru. Kalau bagi masyarakat Jawa, “guru” itu digugu dan dituru, namun, seorang bhikku hanya digugu tetapi tidak ditiru.” Demikian petikan dari salah sebuah ceramah yang pernah disampaikan oleh Sri Pannavaro Sanghanayaka Thera, bhikkhu muda yang sangat mahir dalam membabarkan Dhamma.

Mengapa bhikkhu hanya digugu tapi tidak ditiru? Meskipun semua orang begitu menghormati bhikkhu, berapa persenkah diantara mereka yang mau meniru kehidupan seorang bhikkhu? Berapa orang diantara sekian juta umat Buddha di Indonesia yang bersedia menjadi bhikkhu? Bhikkhu memang dihirmati, disanjung dan bahkan disujuti, tetapi... masih terlampau sedikit umat yang mau “meniru” kehidupan bhikkhu.

Melepaskan Kebahagiaan Duniawi.

Banyak perbuatan baik yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Misalnya berdana kepada mereka yang memerlukan, membangun rumah sakit, mengunjungi panti asuhan, menyokong ayah dan ibu, saling membantu jika ada yang menghadapi kesusahan, memaafkan kesalahan orang lain, dan lain-lain. Perbuatan-perbuatan bajik seperti ini sering kita lakukan dimana dan kapan saja.

Namun, ada satu jenis kebajikan yang mungkin akan sangat sulit dilakukan oleh setiap orang. Tidak semua orang dapat dan mampu melakukannya. Apalagi dalam zaman modern seperti sekarang ini, dimana setiap orang berusaha untuk memenuhi setiap keinginan untuk memuaskan diri pribadi.

Kebajikan yang sangat sulit dilakukan ini hanya dapat ditempuh dengan keinginan yang luar biasa kuatnya, keinginan yang bisa mengalahkan setiap ambisi. Keinginan ini sesungguhnya merupakan keinginan unuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebuh besar dari apa yang bisa dicapai oleh mereka yang enggan menempuh kebajikan ini.

Apakah sesungguh perbuatan bajik yang sangat luar biasa ini?

Kebajikan ini tak lain adalah memutuskan semua keinginan duniawi, mengalahkan setiap godaan nafsu, untuk kemudian memasuki kehidupan sederhana yang sangat minim kebutuhannya – menjalankan kehidupan kebhikkhuan.

Tidak semua orang bisa melakukan kebajikan ini. Sebab terlalu banyak hal yang membelenggu dan mencegah umat manusia untuk memasuki dunia kebhikkhuan. Nafsu keinginan dan keterikatan pada hal-hal duniawi adalah faktor utama yang teramat sulit untuk dipatahkan.

Oleh karena itu, mereka yang mempunyai tekad yang kuat dan berhasil melangkah memasuki kehidupan kebhikkhuan, sesungguhnya merupakan orang-orang yang sangat gigih dan ulet dalam perjuangan moralnya. Orang seperti ini sangat langkah dalam dunia modern sekarang ini.

Dalam kitab suci Dhammapada ayat 103 tercantum sabda Sang Buddha:

“Walaupun seribu kali seseorang apat menakllukkan seribu musuh dalam satu pertempuran, namun orang yang bisa menaklukkan dirinya sendiri sesungguhnya merupakan penakluk terbesar.”

Setiap umat Buddha menyadari hal ini, sehingga mereka semua memberi hirmat yang sangat besar kepada setiap orang yang menjalankan kebhikkhuan. Mereka menghormati bhikkhu karena kemampuannya untuk melepaskan ikatan duniawi, karena kemurniannya dalam menjalankan peraturan hidup sederhana, dan karena bimbingan-bimbingan Dhamma yang diperoleh untuk menuju kebahagiaan.

Kegiatan Bhikkhu Sehari-hari.

Setiap bhikkhu memiliki kewajiban untuk mengembangkan batinnya sendiri dan membimbing dalam jalan yang benar. Di samaping melayani kebutuhan ritual, seorang bhikkhu harus tekun mempelajari Dhamma dan bermeditasi untuk mengembangkan kebijaksanaan, disamping menjalankan sejumlah peraturan kebhikkhuan.

Secara umum, corak kehidupan bhikkhu bisa dibedakan atas dua jenis, yaitu:

* Bhikkhu yang mengutama latihan yaitu para bhikkhu yan senang bermeditasi dihutan-hutan atau ditempat-tempat terpencil untuk mengembangkan kebijaksanaannya. Mereka umumnya hidup menyepi, jauh dari keramaian, dan hanya mengunjungi umat pada saat pindapata untuk menerima persembahan dana makanan.
* Bhikkhu yang mengutamakan pelayanan terhadap umat yaitu para bhikkhu yang hidup dalam lingkungan masyarakat. Ada yang menjadi guru agama, melayani kebutuhna umat untuk melakukan upacara ritual, menjadi penerjemah, ikut aktif dalam organisasi sosial keagamaan, dan lainlain.

Kedua kelompok bhikkhu ini mempunyai penekanan dalam praktik yang berbeda. Namun bukan berarti bahwa kelimpok yang satu tidak melayani masyarakat dan yang lainnya tidak pernah bermeditasi untuk mengembangkan batin. Kedua kelompok ini sama-sama harus melaksanakan praktik meditasi maupun pelayanan kepada masyarakat, hanya saja penekanannya berbeda.

Tak mungkin ada bhikkhu yang mengutamakan latihan kemudian hidup tanpa memerlukan umat. Ia tetap masih memerlukan partisipasi umat, dan ia masih tetap berkomunikasi dengan umat jika ada yang datang meminta nasihat kepadanya. Begitu pula, kelompok bhikkhu yang mengutamakan pelayanan kepada masyarakat pun harus memikirkan perkembangan batinnya. Ia harus tetap tekun menjalankan sila dan bermeditasi agar bisa tercapai cita-citanya sebagai bhikkhu.

Dalam sebuah vihara, biasanya terdapat semacam peraturan yang disepakati bersama oleh setiap bhikkhu sebagai jadwal kegiatan rutin. Pagi hari, biasanya mereka melakukan pembacaan paritta pagi dan melakukan meditasi sebelum tiba saat untuk sarapan pagi.

Setelah itu, para bhikkhu menerima umat/tamu, berbincang-bincang atau memberikan wejangan Dhamma. Ada bhikkhu yang memenuhi permintaan umat untuk membacakan paritta, ada pula yang belajar.membaca ajaran-ajaran Sang Buddha di perpusktaan, dan sebagainya.

Bhikkhu akan makan siang sekitar pukul 11-12 siang. Setelah berisirahat sebentar, para bhikkhu ada yangmenerima tamu, ada yang memberikan ceramah, ada yang mengajar di sekolah sebagai dosen, ada yang mengerjakan tugas organisasi, ada yang belajar Dhamma, dan lain-lain.

Menjelang malam hari, para bhikkhu kembali membacakan paritta senja dan melakukan meditasi. Malam hari biasanya para bhikkhu diundang untuk membacakan paritta di rumah-rumah duka, memberikan ceramah dalam kebaktian, dan sebagainya.

Pada setiap hari uposatha, para bhikkhu akan berkumpul di depan altar Sang Buddha di Uposathagara untuk mendengarkan pembacaan patimokkha (aturan kedisplinan), yang biasanya diawali dengan pemberitahuan atau saling meminta maaf atas pelanggaran-pelanggaran terhadap vinaya.

Sehari sebelum hari uposatha para bhikkhu melakukan dandakamma (mencukur rambut, kumis dan jenggot).

Bagi bhikkhu yang tinggal di kota-kota besar, kegiatan untuk melayani umat sering merupakan kegiatan terbanyak. Sebab tidak sedikit umat yang mengundang bhikkhu untuk kepentingan ritualnya, antara lain untuk pemberkatan rumah/usaha baru, menerima undangan makan, membaca paritta untuk orang sakit/ meninggal, dan lain-lain.

Disamping itu, tak jarang bhikkgu harus menjadi “pendengar” yang baik ats semua keluhan/penderitaan yang dialami oleh umat, kemudian berusaha untuk memberikan jalan keluarnya berdasarkan ajaran Sang Buddha. Entah disadari atau tidak, mayoritas umat Buddha pasti mengharapkan agar bhikkhu bisa membantunya untuk menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapinya, baik itu persoalan keluarga, dagang, hubungan antar manusia, dan sebagaianya.

Perilaku Umat Terhadap Bhikkhu

Di dalam Sigalovada Sutta, Sang Buddha berkata kepada seorang pemuda yang bernama Sivali:

“Dengan enam cara seorang bhikkhu akan melayani umat”

1. Mencegah mereka berbuat jahat.
2. Menganjurkan mereka berbuat kebajikan.
3. Mencintai mereka dengan penuh kasih sayang.
4. Mengajar sesuatu yang mereka belum pernah dengar.
5. Memperbaiki dan menjelasskan sesuatu yang mereka pernah dengar.
6. Menunjukkan jalan ke Nibbana.

Dan, dengan lima cara seorang umat akan melayani para bhikkhu:

1. Dengan perbuatan yang penuh kasih sayang.
2. Dengan ucapan yang ramah tamah.
3. Dengan pikiran yang penuh kasih sayang.
4. Dengan selalu membuka pintu untuk mereka.
5. Dengan memberikan keperluan hidup mereka.

Sang Buddha mengajarkan tentang perilaku timbal-balik antara bhikkhu dan umat./ Setiap bhikkhu mempunyai kewajiban terhadap umat, dan setiap umat pun harus melaksanakan kewajibannya kepada bhikkhu. Cara hidup yang saling menguntungkan, saling bantu-membantu, dan saling menyokong ini hendalnya selalu kita terapkan.

Kesediaan bhikkhu untuk selalu melayani umat membuat para bhikkhu semakin dekat di hati umat. Suasana keakraban tercipta lewat keramahan para bhikkhu. Lambat laun hal ini membuat umat semakin terbiasa dengan kebiasaan para bhikkhu. Sehingga keakraban ini kadang kala membuat umat menjadi lupa diri. Tanpa disadari sering terlontar ucapan-ucapan yang tidak pantas untuk disampaikan kepada seorang bhikkhu.

Misalnya: kata-kata “guyonan’ yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi teman sebaya, “Hei, Bhante.” “Dasarn, Bhante.” “Kesini dong, Bhante.” Dan masih banyak lagi contoh-contoh sapaan lain yang tapa sadar terlontar dari mulut umat yang akhirnya mengabaikan tata krama karena “merasa’ sudah cukup “akrab” dengan para bhikkhu.

Pernah suatu ketika, seorang ibu yang cukup lanjut usia datang ke sebuah vihara. Dengan muka yang cukup sedih dia masuk ke kuti. Kebetukan ada seorang bhikkhu di dalamnya. Dengan kesedihannya, ibu ini datang menghampiri bhikkhu seraya ingin memegang tangan bhikkhu untuk memberikans alam. Tentu saja bhikkhu ini buru-buru menghindar untuk mencegah “kontak” yang tidak perlu. Ketidak-tahuan membuat ibu ini berbuat demikian.

Ada lagi kasus lain yang pernah terjadi di sebuah vihara. Seorang gadis menelephon untuk minta bicara dengan seorang bhikkhu. Kebetulan bhikkhu itu tidak berada ditempat. Gadis ini denga kalimatnya yang cengene terus memaksaakan ingin bertemu dengan bhikkhu yang dicarinya.

Pantaskah tindakan ini bagi seorang umat yang menghormati bhikkhunya?

Disaat seseorang mengalami musibah, menghadapai persoalan atau mengalami depresi, seorang bhikkhu sering menjadi tempat untuk meminta bimbingan dan nasihat yang paling tepat. Umat yang demikian akan sering mengunjungi bhikkhu untuk berkonsultasi, dan bhikkhu pun akan selalu siap untuk membantu.

Lama kelamaan, umat akan semakin mengagumi bhikkhu. Ia akan melihat bhikkhu sebagai seorang insan yang sangat baik dan sangat bijaksana. Bhikkhu adalah orang yang penuh pengertian, yang bisa memahami kesulitan yang kita hadapi dan bisa membantu kita dalam suka dan duka.

Pandangan yang penuh kekaguman ini lambat laun akan berkembamng, berkembang, dan berubah, menjelam menjadi perasaan simpati, akhirnya berubah wujud menjadi “kemelekatan”. Beruntunglah kalau umat dan bhikkhu segera menyadari hal ini. Jarak tetap akan dijaga.

Namun, bagaimana kalau hal sebaliknya yang terjadi?

Bhikkhu pun Perlu Dukungan.

Hendaknya umat menyadari pengabdian seorang bhikkhu yang tanpa pamrih. Pelayanan bhikkhu terhadap umat seharusnya dibalas dengan perilaku yang baik dan sopan. Pengethuan umat tentang peraturan yang dijalankan oleh para bhikkhu mutlak diperlukan agar bisa membantu para bhikkhu dalam menjaga kemurnian sila.

Kelanggengan kebhikkhuan seseorang sangat diperlukan, baik oleh bhikkhu itu sendiri maupun oleh umat Buddha. Seorang bhikkhu perlu mempertahankan keteguhannya dalam menjalankan vinaya, agar cita-cita luhurnya bisa tercapai. Umat pun perlu mengusahakan agar setiap bhikkhu dapat hidup dengan layak, jauh dari segala godaan yang bisa mempengaruhi pratik kehidupan sucinya, sehingga para bhikkhu tetap bisa memberikan pelayanan ritual dan bimbingan Dhamma kepada kita semua.

Dengan sangat sulit untuk melepaskan ikatan keduniawian. Sangat sulit untuk melangkah memasuki dunia kebhikkhuan. Oleh karena itu, sangat langka bhikkhu yang baik di tanah air kita.

Dengan menyadari hal ini, dengan mengutamakan kepentingan orang banuyak, marilah kita ciptakan kondisi yang baik untuk seorang bhikkhu melaksanakan kehidupan sucinya. Mereka pun butuh dukunga moral dari setiap umat Buddha, sebagaimana kita membutuhkan bimbingan Dhamma dari mereka.

Selasa, 03 Agustus 2010

Daftar Nama Para Donatur Pembangunan Vihara Dhamma Mangala Ketapang Agustus-September

Ini adalah daftar nama para donatur sampai saat ini, nama donatur akan disesuaikan dengan aljabar demi memudahkan pencarian dan pendataan donatur baru, jika ada kesalahan penulisan nama, anda dapat menkonfirmasi ke nomor 081256550188 (Via Sms)
Mohon sertakan Kota Asal anda untuk pendataan, terima kasih.




Agus Susanto Lihin : Rp 300.089
Agustino : Rp 250.089
Ali Japar : Rp 260.089
Aliang dan Keluarga (Samarinda) : Rp 550.000
Amat Teri : Rp 50.000
Andrew Ho : Rp 5.000.000
Andy Karim "UD MAJU" : Rp 1.000.089
Arie Chandra : Rp 15.000.000
Arris Erdyanto : Rp 100.000
Baniati (Almh.) dan Keluarga : Rp 1.000.000
Benny Yonk dan Tio Lie Tjen : Rp 30.000.000
Burhan Adhyatma : Rp 1.500.000
Can Hak Khun dan Lie Pue Hun : Rp 15.000.000
Candra Djoharsjah : Rp 2.000.089
Cetiya Dhammamangala : Rp 4.000.000
Chang Li Nen dan Lina Bong : Rp 5.000.000
Chintya Noviani (Tangerang) : Rp 100.000
Ciu Ceng Ui : Rp 1.000.000
Cu Giok Eng : Rp 789.089
Cung Cit Hien : Rp 1.000.000
Cung Tung Lie : Rp 200.000
D. Henry Basuki (Semarang) : Rp 100.089
David Liu : Rp 200.089
Denny Santosa : Rp 50.000
Dharmayanto : Rp 250.089
Dhammadinna Sucarini : Rp 100.000
Dolly : Rp 500.089
Dr. Willy Japaris dan keluarga : Rp 500.000
Eddy Ramly : Rp 100.089
Eddy Suherman: Rp 100.000
Edy Wijaya : Rp 200.089
Elly,dkk Liong Lie Ching : Rp 500.000
Erika : Rp 20.000.000
Erly Kuwandy : Rp 10.000.089
Ferdinand Setiawan : Rp 100.089
Gow Lie Siang : Rp 1.000.000
Gow Ui Han : Rp 500.000
Gunawan Aldjawi : Rp 50.000
Gunawan Sunyawan : Rp 1.000.089
Gunawati : Rp 50.000
Hasan & Kel. (Tangerang) : Rp 200.008
Hendra TRD : Rp 250.000
Hendra Wijana : Rp 100.089
Heng Su Mang : Rp 500.000
Henry Gozali : Rp 250.089
Herman Wijaya : Rp 500.000
Hery Susanto : Rp 100.089
Ho Yong Hok : Rp 2.000.000
Hong Sui Kin : Rp 200.089
Indra (Alm.) dan para Leluhur : Rp 500.000
Irene : Rp 300.089
Japar Sutanto (Alm.) : Rp 500.000
Johan Widjaya : Rp 3.000.000
Karina Djuita H. : Rp 5.000.000
Karman Tjandra : Rp 150.089
Kevin L : Rp 500.089
Kheng Tjia Ngie : Rp 1.000.000
Khou Ui Tak : Rp 1.000.000
Kurniati : Rp 1.000.000
Kwa Ai Khiang : Rp 1.000.000
Kwee Ishwadi ( Alm.) : Rp 488.889
Lanny Suherman : Rp 1.000.000
Lay Bun Djin (alm.) : Rp 100.000
Lay Bun Kie : Rp 200.000
Lay Bun Po ( Leonardo Wibowo) Alm. : Rp 200.000
Lay Bun Sui (Romo Kusalo) & Lim Luan Tian : Rp 30.000.000
Lay Bun Tau (Hermanto Fajaray) : Rp 500.000
Lay Bun Tshung (Anthonio Fajaray) : Rp 5.000.000
Lay Djiu Hie (Alm.) : Rp 100.000
Lay Djiu Khong (Alm.) : Rp 100.000
Lay Djiu Pon (Alm.) dan Nyo Khim Ngo : Rp 5.000.000
Lay Nyian Chiang (Alm.) : Rp 200.000
Lay Nyian Chiung (Tantomo Fajaray) : Rp 5.000.000
Lay Nyian Bie : Rp 250.000
Lay Nyian Fhun : Rp 100.000
Lay Nyian Ho (Teddy Fajaray) : Rp 5.000.000
Lay Nyian Hui ( Alm. Edy Fajaray) : Rp 500.000
Lay Nyian Khiat : Rp 500.000
Lay Nyian Khiun : Rp 500.000
Lay Nyian Pok : Rp 200.000
Lay Nyian Siu : Rp 500.000
Lay Nyian Su : Rp 2.000.000
Lay Sie Fhung ( Alm.) : Rp 500.000
Lay Shie Khonz (Ardy Kurnia Fajaray) : Rp 200.000
Lay Shie Khiunz ( Wiwin Fajaray) : Rp 200.000
Lay Shie Khienz ( Prayogo Fajaray) : Rp 200.000
Lay Shie Khongz ( Patrick Fajaray) : Rp 200.000
Lay Siu Ha : Rp 500.000
Lay Siu Him : Rp 500.000
Lay Siu Khian (Alm.) : Rp 100.000
Lay Siu Khie (Alm.) : Rp 100.000
Lay Siu Khim: Rp 500.000
Lay Siu Khin : Rp 500.000
Lay Siu Phin : Rp 200.000
Lay Sue Ce (Tuti Marinus Lailani) : Rp 50.000
Lay Sue Chui ( Susi Fajaray) : Rp 150.000
Lay Sue Khaw ( Rince Candhani) : Rp 200.000
Lay Sue Men ( Arita) : Rp 50.000
Lay Sue Pue (Martania Marinus) : Rp 50.000
Lay Sue Siam : Rp 500.000
Lay Sue Yong : Rp 50.000
Lay Susanny : Rp 250.089
Leluhur Keluarga Lim : Rp 200.089
Lia Natali Sjaiful : Rp 50.089
Liang Lan Ching : Rp 2.000.000
Lie Chai Hiong : Rp 1.000.000
Lie Hui Khun : Rp 300.000
Lie Kok Seng : Rp 50.089
Lie Mang Chiu : Rp 5.000.000
Lie Theng An : Rp 300.000
Lie Tjie Kiat : Rp 100.089
Lim David : Rp 200.089
Lim Hak Hong : Rp 200.000
Lim Hak Swan : Rp 1.000.000
Lim Handy : Rp 200.089
Lim Hang Seng dan Lay Siu Him : Rp 1.000.000
Lim Hie Swan : Rp 100.000
Lim Linna : Rp 488.888
Lim Lip Khiong : Rp 5.000.089
Lim Peng Cuan : Rp 3.000.000
Lim Poh Hun : Rp 1.000.000
Lim Sun Kui : Rp 250.000
Lim Tek Tong : Rp 500.000
Lim Tjiauw Siang : Rp 5.000.000
Liong Lie Ching : Rp 100.008
Lisawati : Rp 50.089
Lok Ui Piang & Tan Chui Leng : Rp 1.000.000
Lucky Coason : Rp 200.000
Maggacaro dan Chai Bue Khiauw : Rp 30.000.000
Marthendy Mangala Putta : Rp 600.000
Mery : Rp 500.000
Minarni dan Keluarga : Rp 500.000
Mudita Sucarita : Rp 100.000
Ng Pue Kheng : Rp 2.000.000
Njo Phie Nio (Alm) : Rp 5.000.000
NN (RG) : Rp 30.000.000
NN : Rp 200.000
NN : Rp 1.000.000
Nyo Gap Phio : Rp 100.000
Nyo Hiap Pue : Rp 500.000
Nyo Hiap Theng (Eric Martoyo) : Rp 10.000.089
Nyo Khai Seng : Rp 2.000.000
ParamitaYosodara : Rp 100.000
Peng Chuan An (Alm.) & Lim Hong Cheng (Alm.) : Rp 1.000.000
PT Pesaguan Alam Raya : Rp 40.000.000
Pun Tet Khiong : Rp 100.000
Rajikin Karmawan : Rp 1.000.089
Robby Sejahtera Motor (Jambi) : Rp 200.089
Rumah Burung Walet 'Duta Oil : Rp 1.000.000
Santyoso Tio : Rp 15.000.000
Seny Dan Keluarga : Rp 500.000
She Fung Iljas : Rp 500.089
Siany : Rp 100.089
Staven Lim Borneo Elektro : Rp 1.888.888
Sudih Yati : Rp 100.000
Suhartono : Rp 500.089
Sunyata,ST : Rp 200.089
Surianto : Rp 150.000
Susanto Bong (Ashin) : Rp 1.000.000
Susi Tantani : Rp 200.089
Tan Chi Ui : Rp 2.000.000
Tan Djie Hong & Kel. : Rp 50.088.000
Tan Hen Li : Rp 5.000.000
Tan Hian Tong : Rp 200.000
Tan Ing Ing ( Silvi Susanti ) : Rp 100.000
Tan Khiam Pheng : Rp 5.000.000
Tan Kim Hua dan Tio Lek Hua : Rp 35.000.000
Tan Mui Kheng : Rp 2.000.000
Tan Peng Khuang & The Siam Cheng : Rp 1.000.000
Tan Sok Ngim : Rp 200.000
Tan Sok Ling : Rp 100.000
Tan Suan Nio (Alm.) :Rp 188.889
Tan Sui Lay : Rp 1.000.000
Tan Ui Sio : Rp 1.000.000
T. Tampu Bolon : Rp 100.000
Thomas / Aheng : Rp 500.000
Tio Hui Suan : Rp 1.000.000
Tio Ui Ling : Rp 250.000
Tio Ui Shin : Rp 1.000.000
Tjan Tjoei Sim : Rp 100.089
Tjhin Jiu Sang : Rp 30.000
Tjio Yoop Wangsa : Rp 20.000
Toko Hasil Laur : Rp 100.000
Vera Jessica Tjian : Rp 150.178
Wandy : Rp 300.000
Wiske Laksdien : Rp 100.089
Wismin : Rp 10.000.089
Wong Tung : Rp 10.000
Wong Sin Kiau (alm) : Rp 500.000
Yoceline & Wilson & Jason : Rp 250.000
Yodi Tantra : Rp 1.000.000
Yohan Liau : Rp 100.089
Yuliantie : Rp 50.089





Biaya Pembangunan : Rp 1.611.326.979,42
Dana yg terkumpul : Rp 492.656.664,00

Dana yang Masih diperlukan : Rp 1.118.897.226,42

Bagi anda yang ingin berdana dapat ditransfer ke rekening panitia pembangunan Vihāra Dhammamaṅgala :
Bank BCA Cabang Ketapang
No rek : 8955016897
A/N LAI BUNSUI atau THEN KWET FAM
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi :

Romo Kusalo Lai Bun Sui 0811572529 / 081256550188
Balakalyano Then Kwet Cung 081352063635
Mangala Putta Then Kwet Fam 085245954233


DANANCA DHAMMACARIYANCA,ETAM MANGGALA MUTTAMAN
BERDANA DAN MEMPRAKTIKKAN DHAMMA,ITULAH BERKAH UTAMA


Sabbe Satta Bhavantu Sukhitta

NB : mohon untuk menambahkan angka 89 pada dana utk memudahkan pengecekan.
contoh : Rp 100.089,- bagi yang sudah mentransfer mohon memberitahukan nama donator dan
jumlah dana ke 081256550188 (mohon via sms aja).nama donator akan kami update terus dan bisa dilihat di www.dhammamangala.blogspot.com
Bila ada yg sudah mentransfer dan namanya tidak ada pada daftar donator mohon untuk mengkonfirmasi ulang ke no 081256550188.

Senin, 02 Agustus 2010

Kata Sambutan Sangha Theravada Indonesia


SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA
Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya, Jl. Agung Permai XV/12, Jakarta 14350. Telp (021) 64716739. Faks (021) 6450206.
Vihara Mendut, Kotakpos 111, Kota Mungkid 56501, Magelang. Telp / Faks (0293) 788564.






SAMBUTAN

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Māvamaññetha puññassa, na mantaṃ āgamissati;
Udabindunipātena, udakumbhopi pūrati;
Dhīro pūrati puññassa, thokaṃ thokampi ācinaṃ.

Janganlah meremehkan kebajikan walaupun kecil, dengan berkata:
perbuatan bajik ini tidak akan memberi akibat.
Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air yang dijatuhkan tetes demi tetes,
demikian pula orang bijaksana sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kebajikan.
(Dhammapada 122)

Pembangunan sebuah wihara merupakan salah satu upaya perwujudan keyakinan umat Buddha terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha. Selain dijadikan sebagai tempat untuk menumbuhkembangkan keyakinan (saddhā) terhadap Tiratana, wihara juga dapat dipergunakan untuk melatih perilaku susila (sīla), mengembangkan sikap berkorban (cāga), dan meningkatkan kualitas mental bijaksana (paññā). Empat ajaran kebenaran itu sangat diperlukan untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari umat Buddha yang ingin berbahagia di hari esok.

Saṅgha Theravāda Indonesia turut menyambut dengan penuh muditā-citta kehendak luhur untuk membangun Viharā Dhammamaṅgala, yang terletak di Jalan Lingkar Kota, Kota Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat.

Viharā Dhammamaṅgala, Kota Ketapang, berada di bawah pembinaan Dhamma dari Saṅgha Theravāda Indonesia. Karena itu kami berharap agar kehendak luhur pembangunan Viharā Dhammamaṅgala perlu didukung dan dibantu oleh umat Buddha serta para donatur sekalian sehingga cita-cita luhur itu dapat segera terpenuhi. Dukungan dan bantuan umat Buddha serta para donatur merupakan wujud nyata pemenuhan kesempatan berbuat bajik (kusala-kamma). Semoga pahala kebajikan luhur itu mengondisikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi hidup Anda.

Selamat membangun Viharā Dhammamaṅgala, semoga harapan umat Buddha Ketapang dapat segera terwujud dengan mudah sebagai berkah kebajikan umat Buddha sekalian.

Semoga Tiratana selalu melindungi.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia

Kota Mungkid, 1 Juli 2010

SAṄGHA THERAVĀDA INDONESIA




Bhikkhu Jotidhammo, Mahāthera
Ketua Umum / Saṅghanāyaka

Kata Sambutan Y.M. Bhikkhu Sri Subalaratano Mahāthera

Sambutan
Y.M. Bhikkhu Sri Subalaratano Mahāthera


“ Mudita - Katha “


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa
Sukha Saddhapatittha, kebahagiaan timbul dari keyakinan.


Ketika Boddhisatta mulia, Siddharta mulai berjuang mencari Penerangan Sempurna, Beliau dengan tekad dan keyakinan meninggalkan istananya yang megah dan mewah.
Tujuannya hanya satu, ingin mencari jalan yang dapat membebaskan manusia dari dukkha. Akhirnya Bodhisatta berhasil, dan menjadi seorang Sammasambuddha.

Sesungguhnya usaha apa pun tidak akan sukses, tanpa didasari dengan keyakinan.
Oleh karena itu, didasari keyakinan Umat Buddha di Kabupaten Ketapang mulai berjuang membangun sarana ibadah/ Viharā.
Segala kendala, mulai dari mendapatkan lahan, perizinan dari pemerintah sampai persetujuan lingkungan, telah dapat diatasi.

Sekarang tiba saatnya Umat Buddha Kab. Ketapang, Kal – Bar mulai dengan pembangunan Viharā.
Usaha mulia ini mari kita dukung dengan ikut partisipasi dalam Dana Pembangunan.
Maka kesempatan menabur benih kebajikan ini jangan disia-siakan.

Kami yakin dengan uluran Dana dari Umat Buddha, para Dermawan dan para Simpatisan, Viharā ini bisa segera dibangun

Dananca dhammacariyanca, Etam manggala muttamam
Berdana dan Mempraktikkan Dhamma, itulah berkah utama.
Selamat melakukan kebajikan.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.







Bhikkhu Sri Subalaratano Mahāthera
(Upa-Sanghapamokkha STI)


Minggu, 01 Agustus 2010

PROPOSAL PENGGALANGAN DANA

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa,

Berkembangnya Budhha Dhamma di Kota Ketapang,Kalimantan Barat dimulai saat kedatangan 2 orang Bhikkhu dari Sāngha Theravāda Indonesia (Bhikkhu Dhammasubho Mahāthera dan Bikkhu Cittagutto Thera) pada tanggal 23-24 Maret 2004 atas undangan dari Sdra.Marthendy/Mangala Putta.Setahun kemudian Cetiya Dhammamaṅgala berdiri,berkat kemurahan hati bapak Tjiu Djin Tjong/Ibu Lie Mang Leng yg meminjamkan rumah.

Enam tahun telah berlalu dan selama itu pula umat Buddhist Theravāda diketapang menggunakan rumah Bapak Tjiu Djin Tjong sebagai tempat ibadah.mengingat jumlah umat yg terus bertambah dan Cetiya yang terlalu sempit terutama saat ada perayaan atau kegiatan maka umat Theravāda diketapang berencana untuk membangun sebuah Vihāra yaitu Vihāra Dhammamaṅgala.

Vihāra Dhammamaṅgala akan dibangun diatas tanah yg dihibahkan oleh seorang dermawan (Bpk Benny Yong) kepada Yayasan STI.Pembangunan sebuah Vihāra merupakan salah satu upaya perwujudan keyakinan umat Buddha terhadap Buddha,Dhamma dan Sāngha.Vihāra Dhammamaṅgala,kota Ketapang,berada dibawah pembinaan Dhamma dari Sāngha Theravāda Indonesia. Mengingat pembangunan Vihāra akan menelan biaya yang sangat besar (estimasi biaya1,6 M) maka kami segenap panitia pembangunan Vihāra Dhammamaṅgala sangat membutuhkan dukungan dan bantuan dari seluruh umat Buddha serta para dermawan agar kehendak luhur pembangunan Vihāra Dhammamaṅgala bisa berjalan dengan lancar.


Berikut adalah susunan PANITIA PEMBANGUNAN VIHĀRA DHAMMAMAṄGALA :

Pelindung : Sāngha Theravāda Indonesia.

Penasehat : Bhikkhu Sri Paññavaro Mahāthera.
Bhikkhu Sri Subalaratano Mahāthera.
Bhikkhu Cittagutto Thera.
PMd.Dr.Ali Fuchih Siauw,MBA,M.Repro,Sp.And.

Pengawas : Supala Then Tjun Bong
Jinnaputto Tjiu Tjin Tjong
Maggacaro Lim Tau Heng
Ketua Umum : Bhikkhu Thitayañño Thera

Ketua Pelaksana : PMd.Kusalo Lai Bun Sui

Wakil Ketua I : Benny Yonk

Wakil Ketua II : Balakalyano Then Khet Cung

Sekretaris : PMd.Gandahko Sartono Halim,S.H

Sekretaris I : Silacariyo Then Khet Hiung

Sekretaris II : Titik suhartinah,S.Ag.

Bendahara : Mangala Putta Then khet Fam

Bendahara I : Tio Lie Tjen

Bendahara II : Khema Lim Luan Tian

Logistik : Padipo
Gunadipo Andreas Cristianto
Dhammacariyo Then Khet Syao
Sucito Tjung Tjit Hian
Uttaro Wiwin Fajarai
Dhammabalo
PMd.Kusalo Lai Bun Sui

Seksi Usaha Dana : Daudy Gunadi (Jakarta)
Robby Djan (Jakarta)
Venty Widyasari ( Jakarta)
Lie Po Kong ( Jakarta)
Heryanto ( Jakarta)
Gunasaro ( Jakarta)
Hermanto,S.T ( Jakarta)
Parwanto (Semarang)
Kundha Mutiara,SE. ( Denpasar)
Rudy Gunawan ( Makassar)
Yanto ( Makassar)
Ng Tong Heng ( Pontianak)
Neky,S.T ( Pontianak)
Edy Hartono
Adhigunadharo/Henry Chen
Balakalyano Then Khet Cung
Manggala Putta Then Khet Fam
PMd.Gandhako Sartono Halim,S.H
PMd.Kusalo Lai Bun Sui
Lim Tong Meng

ESTIMASI TOTAL KESELURUHAN BIAYA PEMBANGUNAN VIHARA :

1. DHAMMASALA 519.567.000
2. KUTI 266.455.000
3. GEDUNG SERBA GUNA 194.695.000
4. KAMAR TAMU 190.990.000
5. PAGAR 251.074.000
6. POS SATPAM 42.061.000
7. BIAYA KONSULTAN,PENGAWASAN (10%) 146.484.000

TOTAL 1.611.326.000

Demikianlah susunan panitia Pembangunan Vihāra Dhammamaṅgala.Kami segenap pengurus dan panitia sangat mengharap dukungan dan bantuan umat Buddha serta para donator agar pembangunan Vihāra Dhammamaṅgala dapat berjalan dengan sukses.Dukungan dan bantuan yang diberikan merupakan wujud nyata pemenuhan kesempatan berbuat baik (Akusala Kamma).untuk itu kami sangat mengharapkan kemurahan hati dari segenap umat Buddhist dan dermawan untuk ikut membantu menggalang dana demi kesuksesan tujuan dan cita2 luhur ini.

Dana dapat disalurkan langsung ke :

SEKRETARIAT PENGURUS CABANG : MAJELIS AGAMA BUDDHA INDONESIA
KETAPANG – KALIMANTAN BARAT
Jln.Letjen.MT.Haryono no. 118,78812

ATAU dapat ditransfer ke rekening panitia pembangunan Vihāra Dhammamaṅgala :
Bank BCA Cabang Ketapang
No rek : 8955016897
A/N LAI BUNSUI atau THEN KWET FAM
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi :

Romo Kusalo Lai Bun Sui 0811572529 / 081256550188
Balakalyano Then Kwet Cung 081352063635
Mangala Putta Then Kwet Fam 085245954233


DANANCA DHAMMACARIYANCA,ETAM MANGGALA MUTTAMAN
BERDANA DAN MEMPRAKTIKKAN DHAMMA,ITULAH BERKAH UTAMA


Sabbe Satta Bhavantu Sukhitta

NB : mohon untuk menambahkan angka 89 pada dana utk memudahkan pengecekan.
contoh : Rp 100.089,- bagi yang sudah mentransfer mohon memberitahukan nama donator dan
jumlah dana ke 081933852866 (mohon via sms aja).nama donator akan kami update terus dan bisa dilihat di www.dhammamangala.blogspot.com
Bila ada yg sudah mentransfer dan namanya tidak ada pada daftar donator mohon untuk mengkonfirmasi ulang ke no 081933852866.